Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Tradisi Malam Laila di Banggai

by Unknown 0 komentar

Senin, 6 September 2010
Luwuk (ANTARA News) - Ribuan lampu minyak tanah dinyalakan masyarakat etnis Banggai, Balantak dan Saluan  sebagai tradisi menyambut malam Laila (malam Lailatulqadar).

Malam Laila dilaksanakan tiap 27 Ramadhan dengan menyalakan lampu botol atau bambu di halaman rumah warga.

Warga etnis Babasal yang mendiamai Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan (Bangkep) Sulawesi Tengah telah turun temurun melaksanakan tradisi malam Laila seperti.

"Ini sudah tradisi masyarakat di sini untuk menyambut turunnya malam Lailatulqadar dengan menyalakan lampu di halaman rumah masing-masing," kata Imam Masjid Anggung An Nur Banggai Luthfie Yusuf di Luwuk, Minggu malam.

Ia mengatakan tradisi malam Laila terpeliharan dengan baik di Banggai.

"Kita tidak mengetahui kapan dimulainya tradisi ini, tapi lampu Laila telah mengakar," kata Lutfie.

Lampu Laila dinyalakan setelah berbuka puasa hingga pagi sebelum salat subuh. Tradisi lampu Laila ini berlangsung sejak malam ke 27 Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan ditandai pawai takbir.

Tiap rumah menyalakan lampu botol sedikitnya tiga buah. Masyarakat meyakini jumlah lampu yang dinyalakan mempengaruhi turunnya malam seribu bulan.

Untuk menyalakan lampu Laila memiliki syarat tersendiri yakni harus orang dewasa, mengambil air wudhu dan membaca surah ke 97 kitab Al Quran Al Qadr tiga kali. Surah Al Qadr menceritakan tentang turunnya kitab Al Quran dan turunnya malam seribu bulan.

Lampu Laila dinyalakan dengan harapan malam Lailatulqadar yang bernilai setara seribu bulan turun.

"Niatnya adalah menjemput malam Lailatulqadar," ungkap Lutfie.

Saat lampu Laila dinyalakan, warga ikut berjaga-jaga sepanjang malam dengan mengisi ibadah seperti membaca ayat Al Quran atau mendengarkan ceramah agama.

Sulfah (37), warga kelurahan Karaton mengatakan sejak kecil menyalakan lampu Laila.

"Sejak kecil orang tua menyalakan lampu, makanya kita juga menyalakan," katanya.

Lampu Laila telah tersedia di pasar Simpong sejak sepekan lalu. Tiga buah lampu seharga Rp2 ribu. 


Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

by Unknown 0 komentar

Jakarta- Denting Gamelan Bali yang dikumandangkan tim ISI Denpasar mampu menggetarkan publik Rusia di jantung komunitas seni musik Rusia.

Gebrakan tim kesenian Institut Seni Indonesia Denpasar diawali dengan penampilan di Gedung philharmonia kota Tula 200 km dari Moskow, ujar Sekretaris Pertama KBRI Moskow Johannes O S Manginsela dalam keterangan persnya yang diterima Antara, Senin.

Pagelaran yang bertemakan "the Colour of Indonesia" merupakan bagian dari rangkaian peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia - Rusia digelar atas kerjasama KBRI Moskow, ISI Denpasar Bali didukung Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional.

Penampilan gamelan dan tari nusantara mempesona tidak kurang dari 750 orang pengunjung yang memenuhi gedung pertunjukan di kota asal sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy itu.

Diakhir pertunjukan penonton memberikan appresiasi dengan berulang-ulang memekikan "malajet.. Malajet.." atau hebat.

Pada penampilan lainnya tim ISI Denpasar juga berhasil memukau komunitas seni di Moskow di Rachmaninov Hall, Moscow Tchaikovsky Conservatory.

Di sekolah yang merupakan sekolah music klasik yang paling prestius di Rusia tersebut tidak kurang dari 200 pengunjung memenuhi ruang konser yang terkenal ekslusif dan hanya berkapasitas 250 tempat duduk tersebut.

Pada akhir pertunjukan, penonton tidak hentinya bertepuk tangan sehingga para seniman asal Bali ini dituntut untuk keluar kembali ke panggung untuk memberikan "bonus" permainan gamelan tambahan yang spontan dimainkan selama tidak kurang dari tiga menit sebagai "finale" yang disambut dengan standing ovation dari penonton.

Komposisi tabuhan pembuka dan diikuti permainan gamelan yang mengiringi tarian nusantara seperti tari Selat Segara (Bali), Padang Bulan (Jawa Timur), Oleg Tambulingan (Bali), Pakarena (Sulawesi), Mandau, Garuda, Berburu (Papua).

Kecuali tari Saman (Aceh), seluruh tarian diiringi oleh tabuhan musik tradisional secara live. Dengan dukungan akustik ruangan yang prima pertujukan dilakukan tanpa bantuan pengeras suara (sound system).

Duta Besar RI Moskow, Hamid Awaludin mengatakan bahwa pagelaran budaya Indonesia yang merupakan diplomasi seni dan budaya dapat memicu berkembangnya sektor pariwisata Indonesia.

Masyarakat Rusia yang sudah sejak lama mengenal Bali sebagai salah satu tujuan wisata dan diharapkan melalui Bali, mereka dapat mengenal Indonesia secara keseluruhan.

Ditambahkan bahwa peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk lebih meningkatkan hubungan dan persahabatan kedua bangsa.

Sementara itu Margaritha Karatygina, kepada departemen hubungan internasional Moscow Tchaikovsky Conservatory menyambut gembira keberhasilan penampilan ISI Denpasar serta optimis keberhasilan ini akan mendorong minat mahasiswa musik Rusia untuk mendalami lebih jauh seni musik Timur, khusunya gamelan dari Indonesia.

"Kekayaan budaya Indonesia sangat beragam dan oleh karena itu ISI Denpasar mempersembahkan Paket Nusantara," kata Pembantu Rektor Bidang Kerjasama ISI Denpasar, I Wayan Suweca.

"Rusia adalah salah satu negara yang kaya pula akan seni dan budaya serta apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya sangat tinggi.

Kedua bangsa memiliki potensi untuk mengembangkan kerjasama di bidang seni dan budaya dan ISI Denpasar siap menjalin kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi seni di Rusia," tambahnya.


Pakar: Yogyakarta Masih Layak Disebut Kota Revolusi

by Unknown 0 komentar

Minggu, 5 September 2010
Yogyakarta (ANTARA News) - Pakar sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Professor Djoko Suryo mengatakan Yogyakarta masih layak menyandang predikat sebagai kota revolusi.

"Meskipun ibu kota Republik Indonesia telah pindah kembali ke Jakarta, tetapi sampai saat ini Yogyakarta tetap tidak kehilangan semangat revolusinya, sehingga kota ini masih layak menyandang predikat sebagai kota revolusi," kata Djoko Suryo saat menjadi pembicara sarasehan `Mengingat Kembali Sejarah Maklumat 5 September 1945` di Yogyakarta, Minggu.

Djoko mengatakan Yogyakarta masih menjadi warna tersendiri bagi perjalanan sejarah Bangsa Indonesia seperti ditunjukkan pada acara `pisowanan ageng` antara Sri Sultan Hamengku Buwono X saat gejolak reformasi 1998.

"Banyak tokoh nasional yang dididik di Yogyakarta. Tokoh-tokoh tersebut merupakan sumbangsih Yogyakarta terhadap perjalanan sejarah Bangsa Indonesia," katanya.

Bahkan menurut Djoko, Yogyakarta tampak semakin memantapkan dirinya sebagai kota pendidikan dan kota kebudayaan yang disegani.

"Semangat pembaruan dan pembangunan kebudayaan tidak serta merta ikut pindah ke Jakarta, akan tetapi tetap tumbuh dan berlangsung di Yogyakarta," katanya.

Ia mengatakan, sejak 1950 berbagai perguruan tinggi, akademi dan sekolah menengah berbagai jurusan baik negeri maupun swasta banyak berdiri di kota ini.

"Perguruan tinggi dan sekolah-sekolah tersebut menjadi daya tarik bagi pemuda-pemuda dari seluruh Indonesia untuk datang menimba ilmu di Yogyakarta," katanya.

Situasi tersebut menurut Djoko merupakan peristiwa historis Yogyakarta dalam memantapkan diri sebagai kota pendidikan.

"Pergeseran suasana revolusi ke suasana pendidikan dan kebudayaan benar-benar terasa pada tahun 1950-an, hiruk pikuk kota bergeser dari desingan peluru menjadi hilir-mudik pelajar dan mahasiswa," katanya.

Ia mengatakan Yogyakarta juga memiliki berbagai simbolisme perkotaan yang merepresentasikan identitasnya sebagai kota perjuangan seperti monumen, nama jalan, maupun dalam wujud cerita rakyat.


Sebelum Lebaran Masjid Mukomuko Dihias Bagaikan Pengantin

by Unknown 0 komentar

Minggu, 5 September 2010
Mukomuko, Bengkulu (ANTARA News) - Masyarakat Mukomuko, Bengkulu, mulai bersiap untuk menghias masjid di sekitar permukiman mereka agar tampil bak pengantin, seperti yang selalu dilakukan setiap menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Tokoh Adat sekeligus mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mukomuko Darwis Rajo Lelo, di Mukomuko, Minggu, mengatakan, kebiasaan menghias masjid itu biasanya dimulai dua hari sebelum Lebaran.

"Hiasan itu dibuat dan dipasangi oleh masyarakat dengan cara bergotong royong," ungkapnya.

Ia mengatakan, maksud hiasan tersebut sebagai simbol kerajaan dan setiap acara pernikahan di daerah ini simbol kerajaan tersebut juga selalu digunakan untuk menghiasi setiap sudut rumah calon pengantin.

"Tujuan pemasangan hiasan itu untuk membuat kesan yang baik selain berupa ciri khas menghadapi Lebaran," katanya menegaskan.

Jenis hiasan yang dipasang itu dari daun kelapa yang disulam sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi indah.

"Dekorasi yang sudah disulam itu dipasang di depan pintu masuk dan ruangan masjid," kata Darwis.

Selain dekorasi yang terbuat dari daun kelapa, hiasan itu juga berupa umbul-umbul yang dipasangi di depan pagar masjid.

"Umbul-umbul yang dipasang itu warnanya berbeda-beda sehingga ada kesan keindahan ketika pertama masuk dan melewati masjid," katanya.

Ada empat masjid di Kecamatan Kota Mukomuko yang akan dihiasi dengan memesang dekorasi, yakni masjid Baiturahman Kelurahan Koto Jaya, Masjid Al Falah Kelurahan Pasar Mukomuko, Masjid Almutaqqin Desa Ujung Padang, dan masjid Nurul Falah Kelurahan Bandar Ratu.


Kawula Ngayogyakarta Peringati Hari Keistimewaan Yogyakarta

by Unknown 0 komentar

Minggu, 5 September 2010
Yogyakarta - Komunitas Seni Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar aksi teatrikal pantomim untuk memperingati hari keistimewaan Yogyakarta di kawasan nol kilometer Yogyakarta, Minggu.

"Kami menetapkan 5 September 2010 sebagai hari keistimewaan Yogyakarta," kata Koordinator Komunitas Seni Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat, Sigit Sugito, di sela-sela kegiatan itu.

Ia mengatakan, hari keistimewaan Yogyakarta merupakan gerakan budaya yang menggerakkan masyarakat di daerah itu untuk melakukan inventarisasi semua kekayaan dan potensi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Masyarakat Yogyakarta, menurut dia, harus bangun dan maju bersama dengan bergotong royong untuk mengerjakan seluruh tugas budaya untuk mewarnai keistimewaan Yogyakarta itu sendiri.

"Saat ini di mata masyarakat, Yogyakarta tidak memiliki keistimewaan seperti julukannya sebagai daerah istimewa. Bahkan, menyamakannya dengan kota lain di Indonesia," katanya.

Ia mengatakan, aksi itu merupakan upaya untuk mengingatkan kembali masyarakat Yogyakarta tentang segala keistimewaan yang dimiliki. Begitu banyak ragam kesenian yang menjadi kekayaan lokal sebagai salah satu keistimewaan Yogyakarta.

"Kami berharap peringatan tersebut menjadi perayaan tahunan yang dirayakan oleh seluruh masyarakat Yogyakarta dan sebagai bentuk partisipasi dari kesenian modern," katanya.

Puluhan seniman pantomim yang terlibat dalam kegiatan itu dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok datang dari empat penjuru mata angin.

Kelompok dari utara melakukan aksi dari Tugu, kelompok dari barat beraksi dari Wirobrajan, kelompok dari timur memulai aksi dari Gondomanan, dan kelompok dari selatan mengawali aksi dari pojok beteng wetan.


Diberdayakan oleh Blogger.